Perjalanan Menyusuri Sisi Danau Toba di Tiga Kabupaten: Humbang Hasundutan, Tapanuli Utara dan Toba Samosir.

Saya tak pernah bosan!

Perjalanan ini memakan waktu 1 hari, dengan titik berangkat dari Desa Sitoluama, Laguboti.

Rute perjalanan adalah: Laguboti – Siborongborong – Doloksanggul – Bakara – Muara – Meat – Balige – Laguboti.

Apakah yang membuat perjalanannya berkesan, sementara tempat-tempat ini sudah berkali-kali saya kunjungi? Rute yang kami jalani bukanlah rute biasa, bisa disebut rute-rute yang cukup ekstrim. Perjalanan dari Laguboti hingga ke Doloksanggul ditempuh dalam waktu sekitar 1.5 jam, jalanan tergolong mulus beraspal. Sejak dari Doloksanggul menuju Bakara, lebar jalan semakin menyempit, bahkan kita sempat tersesat ke jalan baru yang tembusannya ke Sidikalang (padahal ke Bakara pun saya sudah beberapa kali, hehehe…). Namun, semakin mendekati Desa Baktiraja, wowww… pemandangan lembah Bakara sangat bisa mengobati “sakit punggung” karena “duduk manis” selama 2 jam di atas motor 😉

Tiba di Bakara, kita langsung menuju Tipang Mas, restoran terapung di atas Danau Toba, yang juga punya tempat penginapan (tapi yang ini tidak terapung, hohoho…). As usual, pesan ikan bakar, kita menunggu sambil berfoto di tepi danau. Makanan tak pakai lama, langsung ludes disambar tangan-tangan lapar (maksudnya orangnya, bukan tangannya…). Sebelum kita ketiduran “membodo” karena kenyang, kita cusss berangkat ke Air Terjun Janji yang masih berada di Bakara.

« 1 of 2 »

Orang-orang yang ingin ke Muara, jarang mengambil jalan lintasan dari Bakara. Sebabnya adalah jalan yang sempit dan bahkan 2 mobil tak dapat berpapasan, sementara di satu sisi jalan adalah tepi danau yang curam. Berhubung kita pakainya motor, jadi tidak terlalu kuatir untuk memutuskan melanjutkan perjalanan ke Muara melalui jalur tepi danau dari Bakara. Yakinlah, kalian tidak akan menyesal melalui jalur ini (tetapi harus tetap berhati-hati dalam berkendaraan, mengingat kondisi jalan yang masih “kurang baik”), sepanjang perjalanan kita akan disuguhkan pemandangan Danau Toba dan jajaran pegunungan, plus pohon-pohon mangga di tepi jalan. Oh ya terkait pohon mangga, saya sarankan datanglah ke Bakara dan Muara pada saat musim mangga berbuah. Di sepanjang jalan akan kalian temukan pohon-pohon mangga dan tentu saja buahnya, anak-anak yang memanjat dan menjual buah mangga segar yang baru saja dipetik. Normalnya, mangga di daerah ini (sering disebut Mangga Muara) berbuah pada bulan Juni-Agustus dan Desember-Januari setiap tahunnya.

Tiba di Kota Muara, hujan rintik-rintik. Setelah beristirahat sebentar di tepi danau, kita melanjutkan perjalanan. Awalnya kita ingin kembali ke Laguboti melalui jalur biasa, yaitu Muara – Silangit – Balige – Laguboti. Namun, seorang teman perjalanan penasaran sekali untuk mencoba jalur yang tak biasa (lagi), dari Muara ke desa Meat lalu kota Balige. Setelah bersama-sama memutuskan dengan matang, bermusyawarah untuk mufakat. Kita ambil jalur yang tak biasa ini.

Dan pemirsa, sepanjang jalan, kita kembali disuguh pemandangan indah Danau Toba dengan airnya yang tenang, biru dan pegungungan yang terbentang menemani kita sepanjang jalan. Tetapi kawan-kawan, karena rute ini mungkin jarang dilalui manusia dan kendaraan, menyebabkan jalannya hanya berbentuk jalan setapak, tidak ada aspal, tidak ada pembatas jalan, dan saat itu gerimis, berlumpur dan licin, du du du du…

Kita selamat ketika tiba di desa Meat, sudah sore, dan memutuskan langsung ke kota Balige lalu Laguboti. Sehari perjalanan, serunya minta ampun 😉

Tunggu keseruan-keseruan berikutnya yaaa…