Design Thinking

Design Thinking Stage 5: Test

Topik:

  1. What is test mode
  2. Why test
  3. Methods

WHAT IS TEST MODE

Testing adalah tahapan di mana Anda memiliki kesempatan Anda untuk mengumpulkan masukan, menyempurnakan solusi, dan terus mempelajari user Anda. Mode testing adalah mode berulang di mana Anda menempatkan prototipe resolusi rendah dalam konteks yang sesuai dengan kehidupan user Anda. Buatlah prototipe seolah-olah Anda tahu Anda benar, tetapi lakukan pengujian seolah-olah Anda tahu Anda salah.


WHY TEST

Testing bertujuan menciptakan pengalaman otentik bagi user untuk menguji prototipe Anda.

  1. Pelajari lebih lanjut tentang user Anda. Testing adalah kesempatan lain untuk membangun empati melalui observasi dan keterlibatan langsung — sering kali tahapan ini menghasilkan wawasan yang tidak terduga.
  2. Sempurnakan prototipe dan solusi Anda. Testing menginformasikan iterasi prototipe berikutnya.
  3. Uji dan perbaiki Point of View (POV) Anda. Testing dapat mengungkapkan bahwa Anda tidak hanya mendapatkan solusi yang salah, tetapi Anda juga salah membingkai masalah.

METHODS

Beberapa metode pada mode Test adalah:

  • Testing with users
  • Feedback capture matrix

Testing with Users

Testing bersama user adalah bagian fundamental dari human-centered design. Anda melakukan testing bersama user tidak hanya untuk menyempurnakan solusi Anda, tetapi untuk lebih memahami orang-orang yang pada mereka Anda buatkan desain. Saat Anda menguji prototipe, pertimbangkan apa yang dapat Anda pelajari tentang solusi Anda dan apa yang dapat Anda pelajari tentang user — Anda selalu dapat menggunakan lebih banyak empati pada tahapan ini.

Cara melakukan testing bersama user adalah:

  1. Biarkan user Anda merasakan pengalaman berinteraksi dengan prototipe. Anda cukup menunjukkan prototipe tanpa perlu memberitahu bagaimana prototipe tersebut digunakan. Letakkan prototipe Anda di tangan user dan berikan hanya konteks dasar yang mereka butuhkan untuk memahami apa yang harus dilakukan.
  2. Minta mereka membicarakan pengalaman mereka. Gunakan petunjuknya: “Katakan apa yang Anda pikirkan saat melakukan ini.”
  3. Amati secara aktif saat user menguji prototipe Anda. Jangan langsung “mengoreksi” user, sebaliknya perhatikan bagaimana mereka menggunakan (dan menyalahgunakan) prototipe Anda.
  4. Tindak lanjuti dengan pertanyaan (bertanya ini seringkali merupakan bagian yang paling berharga), seperti:
    • “Tunjukkan mengapa ini (tidak) berhasil untuk Anda.”
    • “Bisakah Anda memberi tahu saya bagaimana perasaan Anda saat ini?”
    • “Mengapa?”, Jawab pertanyaan dengan pertanyaan.
    • Menurut Anda, apa fungsi tombol itu?

Feedback Capture Matrix

Feedback Capture Matrix memfasilitasi penangkapan feedback secara real-time pada presentasi dan pembuatan prototipe. Anda dapat menggunakan Feedback Capture Matrix untuk memberikan feedback tentang kemajuan dalam tim desain atau untuk menangkap feedback dari user. Matriks itu sendiri mengatur pemikiran dan gagasan menjadi empat kategori agar mudah dinilai.

Bagilah satu halaman kosong atau papan tulis menjadi kuadran. Kemudian gambarkan:

  • tanda tambah (+) di kuadran kiri atas,
  • tanda delta di kuadran kanan atas,
  • tanda tanya (?) di kuadran kiri bawah, dan
  • bola lampu di kuadran kanan bawah.

Isilah matriks saat Anda memberi atau menerima feedback:

  • Tempatkan hal-hal yang disukai atau dianggap penting di kiri atas (tanda tambah).
  • Kritik konstruktif berada di kanan atas (tanda delta).
  • Pertanyaan yang diajukan berada di kiri bawah (tanda tanya).
  • Dan ide-ide baru muncul di kanan bawah (bola lampu).

Jika Anda memberikan masukan, berusahalah untuk memberikan masukan di setiap kuadran (terutama dua kuadran teratas: “suka” dan “keinginan”).


REFERENSI

  • Bootcamp Bootleg, Hasso Plattner Institute of Design at Stanford.
  • Feature Image: Photo by freestocks on Unsplash