Hujan rintik-rintik masih membasahi kota saat saya tiba di stasiun kereta. Pukul tujuh malam, saya bergegas masuk dan melapor untuk pengambilan tiket di customer service. Si petugas menujuk pada satu mesin, silahkan cetak di sana. Saya mengantri dan melihat, dan tibalah giliran saya. Wowww, hanya dengan memasukkan kode booking di layar, klik tombol cetak, maka tiket saya sudah jadi. Saya masih terheran-heran, meski mungkin terlambat mengetahui, bahwa sistem di kereta saat ini sudah canggih, mudah dan cepat.

Kali ini saya akan berangkat ke Daerah Istimewa Yogyakarta, perjalanan selama tujuh jam dari Bandung. Kereta berangkat tepat waktu, pukul 19.30 WIB. Tidak lama setelah kereta berangkat, saya tertidur, pun karena tidak ada pemandangan yang bisa disaksikan dari jendela selain gelap dan lampu-lampu jalanan. Tiba di Yogyakarta sekitar pukul 03.30 subuh, saya beristirahat di stasiun, menggunakan ransel sebagai pengganti bantal, berbaring di kursi ruang tunggu dan terlelap hingga pukul 05.30 pagi. Ternyata meski di stasiun pun saya bisa terlelap, hehehe…

Setelah hari terang, kami keluar dari stasiun menuju Jl. Pasar Kembang untuk mencari penginapan (murah) yang jam checkin-nya tidak harus siang hari, dan ketemuuuuu… Meski checkin pukul enam pagi, tetapi tetap dihitung satu hari hingga besok siangnya. Senang rasanya, bisa istirahat sebentar dan mandi air panas 😀

Penjelajahan di Yogyakarta dimulai dari Jl. Malioboro dengan acara sarapan. Menu nasi pecel pun menjadi pilihan, dan tepat sekali tidak salah pilih, rasanya enak. Sarapan pagi itu berlangsung seru, duduk di area trotoar Jl. Malioboro sambil melihat para pelancong berseliweran dan becak yang hilir mudik.

 

Beres sarapan, perjalanan dilanjutkan ke Taman Sari, setelah berhasil tawar menawar dengan bapak pengemudi becak yang bersedia mengantar ke berbagai tempat dengan biaya Rp.50.000. Setiba di Taman Sari, kita harus membeli tiket masuk serta tiket untuk dapat membawa kamera. Tempat yang paling ingin saya kunjungi di tempat ini adalah Umbul Pasiraman atau Umbul Binangun, tempat kolam pemandian Sultan, para istri, serta putri-putrinya, dan mesjid bawah tanah Sumur Gumuling. Taman Sari sendiri adalah kebun istana Keraton Yogyakarta yang dibangun pada masa pemerintahan Sultan Hamengku Buwono I.

Cuaca sangat cerah selama berkeliling di area Taman Sari, dan puji Tuhan saya bisa menyaksikan dan mengabadikan gambar Umul Pasiraman dan Sumur Gumiling yang selama ini hanya saya lihat melalui foto-foto di internet. Sungguh takjub menyaksikan arsitektur megah, sistem terowongan dan salurah air yang dibangun pada masa lampau ini.

Sehabis berkeliling, baru terasa lelah, kegerahan dan kehausan. Dan Puji Tuhan, di parkiran lokasi Taman Sari kita bisa menikmati Es Beras Kencur yang melegakan dan membuat segar kembali.

Selepas mengitari kompleks Taman Sari, perjalanan dilanjutkan ke Keraton Yogyakarta, masih dengan becak yang sama. Apa yang saya syukuri dengan menumpangi becak adalah dapat menghirup udara segar, bisa sambil melihat-lihat sepanjang perjalanan dan tentu saja bisa memotret dengan bebas.

Tiket masuk ke Keraton Yogyakarta untuk dua orang plus izin untuk membawa kamera dibayar seharga Rp. 27.000. Hal pertama yang menarik dan memanggil untuk disaksikan adalah pertunjukan wayang lengkap dengan sinden dan para pemain musiknya. Cukup lama saya berada di area pertunjukan sambil memotret alat musik dan para pemainnya, para sinden, dalang dan para pelancong dari berbagai negara yang bersama-sama menyaksikan pertunjukan.

Sangat menarik mengitari kompleks keraton dengan segara ornamen, arsitektur bangunan, meski ada beberapa area bangunan yang tidak bisa diinjak (akan ada plang penandanya). Perjalanan di Keraton Yogyakarta kembali diakhiri dengan menikmati Es Beras Kencur, karena cuaca Yogya pada hari itu cukup terik.

Perjalanan belum berakhir, Kawan. Selepas makan siang, tak sabar segera tiba di Pasar Beringharjo. Daaaaannnn… ke-kalap-an pun terjadi. Sejak awal berangkat saya sudah berjanji bahwa hanya akan membeli secukupnya jika singgah di sana. Alkisah, keinginan hati tak bisa ditolak, jadilah membawa beberapa bungkusan dari Pasar Beringharjo dan Mirota Batik.

Setelah kaki pegal karena berkeliling selama beberapa jam di sekitaran sentra batik di Jl. Malioboro, kita beristirahat menikmati es buah di cafe Mirota Batik dan lalu makan malam di Malioboro. Oh ya, selama perjalanan di Pasar Beringharjo dan Mirota  Batik, hampir tak ada acara dokumentasi foto, maklumlah, kita terlalu fokus, hahaha…

Tidak sah rasanya ke Yogya jika tidak nongkrong di angkringan dan minum kopi. Kopi apa? Kopi Joss tentu saja. Kopi hitam yang diseduh lalu ditambahkan arang panas ke dalamnya. Sambil duduk lesehan, menikmati senandung dari para musisi jalanan, di angkringan Stasiun Tugu kami menikmati nasi kucing, sate ati ampela dan kopi penghangat malam.

Tak terasa malam sudah semakin beranjak. Saatnya kembali beristirahat, menikmati malam di Yogya. Tidak perlu judul muluk-muluk mendeskripsikan serunya perjalanan di sana, cukup katakan mari bergembira di Yogya Saja.

Februari 2015.