Design Thinking

What is Design Thinking?

Good designers never start by trying to solve the problem given to them: they start by trying to understand what the real issues are.

Don Norman

Topik:

  1. Apakah Design Thinking
  2. Aturan pada Design Thinking
  3. Berpikir divergen vs konvergen
  4. Human-Centered Design
  5. Atribut Design Thinking
  6. Karakteristik seorang design thinker
  7. Proses Design Thinking

APAKAH DESIGN THINKING?

Menurut Tim Brown (presiden dan CEO IDEO):

Design Thinking adalah adalah disiplin yang menggunakan kepekaan dan metode-metode seorang desainer yang sesuai dengan kebutuhan MANUSIA, dengan apa yang layak secara TEKNOLOGI dan apa yang dapat diubah oleh strategi BISNIS menjadi nilai bagi pelanggan dan menjadi peluang pasar.

Definisi ini dapat digambarkan dalam sebuah diagram seperti gambar di bawah ini.

Inovasi desain dapat tercipta dari adanya kebutuhan manusia, yang dimungkinkan dengan adanya teknologi dan kemudian layak dijadikan sebuah bisnis yang bernilai bagi para pelanggan.


Menurut Christoph Meinel dan Larry J. Leifer (Hasso Plattner Institute):

Design Thinking adalah metologi yang BERPUSAT PADA MANUSIA (human-centric) yang mengintegrasikan keahlian dari bidang DESAIN, ILMU SOSIAL, TEKNIK DAN BISNIS. Design thinking memadukan fokus pada end-user dengan kolaborasi MULTIDISIPLIN dan pengembangan secara ITERATIF untuk menghasilkan produk, sistem, dan layanan yang inovatif. Design thinking menciptakan lingkungan interaktif yang dinamis yang mendorong pembelajaran melalui pembuatan prototipe konseptual yang cepat.

Design Thinking adalah sebuah pendekatan untuk menciptakan sebuah pemecahan masalah secara kreatif (CREATIVE PROBLEM SOLVING) yang secara luas diakui sebagai sebuah jalur berharga menuju inovasi yang berpusat pada manusia (Plattner et al. 2009; d.school 2010a; Kelley and Kelley 2013).

Menurut Rikke Friis Dam & Teo Yu Siang (Interaction Design Foundation):

Design Thinking adalah proses iteratif di mana kita berusaha untuk memahami pengguna, menantang asumsi, dan mendefinisikan ulang masalah dalam upaya untuk mengidentifikasi strategi dan solusi alternatif yang mungkin tidak langsung terlihat dengan tingkat pemahaman awal kita. Pada saat yang sama, Design Thinking memberikan pendekatan berbasis solusi untuk memecahkan masalah.

Design thinking berkisar pada pada minat yang mendalam dalam mengembangkan pemahaman tentang orang-orang yang pada mereka didesain sebuah produk atau layanan. Hal ini membantu untuk mengamati dan mengembangkan empati dengan pengguna target. Design Thinking membantu kita dalam PROSES MEMPERTANYAKAN: mempertanyakan masalah, mempertanyakan asumsi, dan implikasi.

Design Thinking sangat berguna dalam mengatasi masalah yang tidak jelas atau tidak diketahui (ill defined / unknown), dengan membingkai ulang masalah (reframing the problem) dengan cara yang berpusat pada manusia (human-centric), menciptakan banyak ide dalam sesi brainstorming, dan mengadopsi pendekatan langsung dalam pembuatan prototipe dan pengujian.

Dari beberapa definisi di atas, dapat diambil beberapa kata kunci pada Design Thinking yang perlu diingat dan dilakukan dalam penerapannya, yaitu:

  1. Mengatasi masalah yang tidak jelas atau tidak diketahui (wicked / ill defined / unknown)
  2. Berpusat pada manusia (human-centric)
  3. Mendefinisikan ulang masalah sebelum menciptakan solusi
  4. Multidisiplin (mengintegrasikan keahlian dari bidang desain, ilmu sosial, teknik dan bisnis)
  5. Pemecahan masalah secara kreatif
  6. Iteratif
  7. Kolaboratif
  8. Menghasilkan produk inovatif.

Design Thinking dikembangkan oleh David Kelley, profesor Stanford dan pendiri agensi desain terkenal IDEO di Silicon Valley, dan dalam pengembangannya sangat dipengaruhi oleh Profesor Terry Winograd dan Larry Leifer di d.school di Universitas Stanford. Sejak 2007, Design Thinking telah berhasil diterapkan dan dikembangkan lebih lanjut di HPI School of Design Thinking di Potsdam, dan tersedia untuk perusahaan dan profesional melalui HPI Academy.

Design Thinking kini telah banyak dikembangkan dan diterapkan di industri dan juga dunia pendidikan setelah gagasan dari David Kelley. Namun, mari kita ketahui terlebih dahulu konsep Design Thinking di Hasso Platter Institute (HPI), Stanford Design School dan IDEO.


Design Thinking di Hasso Plattner Institute

Definisi Design Thinkig

Design Thinking adalah pendekatan sistematis yang berpusat pada manusia untuk memecahkan masalah kompleks dalam semua aspek kehidupan. Dan tidak seperti pendekatan ilmiah dan teknik tradisional, yang menangani tugas dari sudut pandang penyelesaian teknis, user needs dan requirements serta penemuan yang berorientasi pada user merupakan pusat dari proses Design Thinking.

  • Pendekatan Design Thinking memerlukan feedback berkelanjutan antara pembuat solusi dan user yang menjadi target.
  • Para design thinker harus dapat menempatkan diri pada posisi user (STEP INTO THE END USER’S SHOES) – tidak hanya mewawancarai mereka, tetapi juga mengamati perilaku mereka dengan cermat.
  • Solusi dan ide dikonkretkan dan dikomunikasikan dalam bentuk prototipe sedini mungkin, sehingga calon pengguna dapat mengujinya dan memberikan feedback – jauh sebelum penyelesaian atau peluncuran.

Inovasi dan pemecahan masalah yang efektif menggabungkan tiga komponen penting: kelayakan teknis, kelayakan ekonomi dan keinginan manusia. Design Thinking mendekati masalah dari perspektif manusia, dengan tujuan merancang produk, layanan, atau pengalaman yang inovatif dan diinginkan yang mencerminkan ketiga aspek tersebut.

Faktor Sukses Design Thinking

Tiga faktor penting yang membuat Design Thinking berhasil adalah:

  • Interaksi kolaboratif dalam tim yang multidisiplin dapat memiliki kemampuan dalam pengambilan keputusan
  • Ruang kerja yang fleksibel untuk kerja kolaboratif
  • Alur kerja yang mengikuti proses Design Thinking.
1. Tim yang Multidisiplin

Faktor sukses dari aspek kombinasi tim yang multidisiplin adalah:

  • Inovasi dan jawaban atas pertanyaan kompleks paling baik dihasilkan dalam tim heterogen yang terdiri dari lima hingga enam orang. Berbagai latar belakang dan fungsi profesional, ditambah keingintahuan dan keterbukaan akan perspektif yang berbeda, merupakan dasar dari budaya kerja kreatif Design Thinking.
  • Dalam workshop Design Thinking, setiap tim didampingi oleh seorang Pembina yang terlatih dalam metodologi Design Thinking. Pembina memimpin anggota tim melalui seluruh proses sehingga mereka dapat fokus pada konten kerja kolaboratif konstruktif mereka dan mencapai tujuan yang ditargetkan.
  • Tim terus berupaya untuk mencapai hasil yang nyata dan konkret, kemudian secara teratur dipertukarkan dengan tim lain untuk memaksimalkan efek pembelajaran. Pemisahan menjadi kelompok-kelompok kecil memastikan bahwa setiap perspektif diberikan pertimbangan yang tepat. Hubungan atau perpaduan yang kuat berkembang di dalam tim dengan efek yang bertahan lama, karena penerimaan yang tinggi untuk konsep yang dihasilkan.
2. Ruang Kerja Fleksibel

Ruang kerja yang fleksibel dibutuhkan untuk beberapa alasan, yaitu:

  • Tim membutuhkan kondisi ruang yang optimal agar dapat mengembangkan proses kreatifnya. Hal ini termasuk furnitur yang fleksibel dan dapat dipindahkan, ruang yang cukup untuk papan tulis dan presentasi serta bahan untuk membuat prototipe ide desain, seperti blok Lego, kain, dan gambar-gambar.
  • Tim Design Thinking bekerja berdiri di ruang yang dirancang untuk hingga enam orang. Peserta dengan demikian dapat dengan mudah berinteraksi dengan tim lain yang bekerja secara paralel. Kerja kolaboratif ini menjadi pengalaman yang dinamis bagi semua orang yang terlibat.
3. Alur Kerja

Fase Design Thinking di HPI ditunjukkan pada gambar di bawah ini.

Proses Design Thinking didasarkan pada proses alur kerja intuitif seorang desainer. Tim dipimpin melalui kerja iteratif dalam 6 tahap:

  • Pada fase 1 UNDERSTAND, tim menentukan ruang masalah.
  • Pada tahap 2 OBSERVE, peserta mendapatkan pandangan ke luar dan membentuk empati bagi user dan stakeholder.
  • Pada fase 3 POINT OF VIEW, yang berfungsi untuk menentukan sudut pandang, pengetahuan yang diperoleh akan disusun dan diringkas, dan tantangan dibingkai ulang.
  • Pada fase 4, IDEATE, tim selanjutnya menghasilkan berbagai kemungkinan solusi, kemudian memilih fokus.
  • Fase 5 PROTOTYPE, berfungsi dalam pengembangan solusi konkret.
  • Fase 6 TEST, solusi kemudian dapat diuji pada kelompok sasaran yang sesuai.

Design Thinking di Stanford Design School

D. Mindset

Terdapat beberapa mindset yang disebut D.Mindset dalam penerapan Design Thinking di Stanford Design School, yaitu:

  1. Show Don’t Tell (Tunjukkan Jangan Katakan)
    Komunikasikan visi Anda dengan cara yang berdampak dan bermakna dengan menciptakan pengalaman, menggunakan ilustrasi visual, dan menceritakan kisah baik.
  2. Focus on Human Value (Fokus pada Nilai Manusia)
    Berempati pada orang-orang yang pada mereka Anda buat desain dan mendapatkan feedback dari user sangat penting untuk desain yang baik.
  3. Craft Clarity (Membuat Kejelasan)
    Hasilkan visi yang koheren (sesuai, berkaitan) dari masalah yang Anda hadapi. Bingkai itu dengan cara yang menginspirasi orang lain dan untuk mendorong menghasilkan ide-ide.
  4. Lakukan Eksperimen (Embrace Experimentation)
    Pembuatan prototipe bukan sekadar cara untuk memvalidasi ide Anda; prototyping adalah bagian integral dari proses inovasi Anda. Anda membangun prototype untuk berpikir dan belajar.
  5. Perhatikan Proses (Be Mindful of Process)
    Ketahui posisi Anda dalam proses desain, metode apa yang digunakan dalam tahap itu, dan apa tujuan Anda.
  6. Bias Toward Action (Arah mMenuju Tindakan)
    Design Thinking bukan saja tentang berpikir tetapi lebih tentang melakukan pemikiran itu (DOING). Arahkan untuk melakukan tindakan dibanding sekedar pemikiran dan pertemuan.
  7. Radical Collaboration (Kolaborasi Radikal)
    Kumpulkan inovator dengan beragam latar belakang dan sudut pandang. Hal ini memungkinkan wawasan dan terobosan solusi muncul dari keragaman.

Proses Design Thinking di Stanford Design School

Proses Design Thinking di Stanford Design School terdiri dari 5 stage, yaitu Empathize, Define, Ideate, Prototype dan Test.


Design Thinking di IDEO

Mindset di IDEO: Creative Confidence

  • Creative Confidence adalah gagasan bahwa Anda memiliki ide-ide besar, dan bahwa Anda memiliki kemampuan untuk menindaklanjutinya.
    David Kelley, Founder, IDEO
  • Anda mengambil risiko dari proses tersebut dengan membuat sesuatu yang sederhana terlebih dahulu. Dan Anda selalu mendapat pelajaran darinya.
    Krista Donaldson, CEO, D-Rev
  • Jangan menganggapnya sebagai kegagalan, anggaplah sebagai merancang eksperimen yang akan Anda pelajari.
    Tim Brown, CEO, IDEO
  • Untuk mendapatkan solusi baru, Anda harus mengenal orang yang berbeda, skenario berbeda, tempat berbeda.
    Emi Kolawole, Editor-in-Residence, Stanford University D.School
  • Optimisme adalah hal yang mendorong Anda maju.
    John Bielenberg, Founder, Future Partners
  • Dengan melakukan iterasi, kami memvalidasi ide-ide kami sepanjang proses karena kami mendengar dari orang-orang yang sebenarnya yang padanya kami buatkan desain.
    Gaby Brink, Founder, Tomorrow Partners

Proses Design Thinking di IDEO

Terdapat lima fase dalam proses design thinking di IDEO, yaitu Discovery, Interpretation, Ideation, Experimentation dan Evolution.


ATURAN PADA DESIGN THINKING

  1. The Human Rule: Semua aktivitas desain pada dasarnya bersifat sosial.
    Ada penelitian yang memperkuat pernyataan bahwa inovasi yang sukses melalui aktivitas Design Thinking akan selalu membawa kita kembali ke “sudut pandang yang berpusat pada manusia”. Aturan ini adalah keharusan untuk menyelesaikan masalah teknis dengan cara yang memuaskan kebutuhan manusia dan mengakui elemen manusia di semua teknologis dan manajer.
  2. Ambiguity Rule: Design Thinker harus menjaga ambiguitas.
    Tidak ada peluang yang akan didapat jika kotak ditutup rapat, banyak batasan berlebihan, dan adanya ketakutan akan kegagalan. Inovasi menuntut eksperimen pada batas pengetahuan kita, pada batas kemampuan kita untuk mengontrol peristiwa, dan dengan kebebasan untuk melihat sesuatu secara berbeda.
  3. Re-design Rule: Semua desain adalah hasil desain ulang.
    Kebutuhan manusia yang ingin kita penuhi telah bersama kita selama ribuan tahun. Melalui waktu dan evolusi, ada banyak solusi yang berhasil untuk masalah ini. Karena teknologi dan keadaan sosial berubah terus-menerus, sangat penting untuk memahami bagaimana kebutuhan ini telah ditangani di masa lalu. Kemudian kita dapat menerapkan “tool dan metode yang berorientasi ke masa depan” untuk memperkirakan kondisi sosial dan teknis yang akan kita hadapi dengan lebih baik 5, 10, atau bahkan 20 tahun ke depan.
  4. Tangible Rule: membuat ide menjadi nyata untuk memfasilitasi komunikasi.
    Prototipe adalah media komunikasi untuk menyampaikan gagasan solusi.

BERPIKIR DIVERGEN VS KONVERGEN

Dalam setiap fase proses Design Thinking, diperlukan penerapan berpikir divergen dan berpikir konvergen.

Berpikir secara divergent, melihat segala kemungkinan, menggunakan intuisi, melibatkan otak kanan, subyektif dan penuh dengan spekulasi (mengadu untung). Berpikir secara convergent, melihat segala peluang, logis, melibatkan otak kiri, obyektif dan penuh dengan pertimbangan.

Kedua konsep berpikir ini digunakan sesuai dengan fase Design Thinking yang sedang dijalankan.

Prinsip yang penting untuk diingat dan diterapkan adalah:

  1. Terlebih dahulu melakukan eksplorasi terhadap permasalahan yang dihadapi untuk mendapatkan masalah yang sebenarnya.
  2. Melakukan eksplorasi terhadap pilihan-pilihan solusi, sebelum menemukan solusi yang tepat.

Karakteristik dasar dari Design Thinking adalah:

  1. Eksplorasi ruang masalah: Saat menjelajahi ruang masalah, Design Thinking memperoleh pemahaman yang intuitif, terutama dengan mengamati kasus atau skenario penggunaan yang patut dicontoh, sebagai lawan untuk merumuskan hipotesis atau teori umum tentang masalah; dan mensintesis pengetahuan terhadap masalah ke sebuah sudut pandang.
  2. Eksplorasi ruang solusi: Design Thinking mempertanyakan sejumlah besar ide alternatif secara paralel dan menguraikannya dengan teknik sketsa dan prototipe. Dengan cara ini, ide-ide secara sadar diubah menjadi perwakilan ide yang nyata.
  3. Penempatan yang tepat untuk kedua ruang secara iteratif: Perwakilan ide dan konsep ini memfasilitasi komunikasi tidak hanya di tim desain, tetapi juga dengan user, klien, dan pakar. Dengan demikian, Design Thinking membantu untuk tetap berhubungan dengan lingkungan yang relevan dengan masalah dan dapat menggunakan informasi ini untuk menyempurnakan dan merevisi jalur solusi yang dipilih.

HUMAN-CENTERED DESIGN

Pada penjelasan tentang Design Thinking di bagian sebelumnya, sering disebutkan human-centric sebagai salah satu prinsip yang harus diterapkan dalam menjalankan fase Design Thinking.

Human-Centered Design (HCD) adalah proses untuk memastikan bahwa kebutuhan orang-orang terpenuhi, bahwa produk yang dihasilkan dapat dipahami dan digunakan, menyelesaikan tugas yang diinginkan, dan pengalaman penggunaan yang positif dan menyenangkan.

Desain yang efektif perlu memenuhi sejumlah besar batasan dan persyaratan, termasuk wujud dan bentuk, biaya dan efisiensi, keandalan dan keefektifan, dapat dipahami dan digunakan, kesenangan akan penampilan, kebanggaan kepemilikan, dan kegembiraan penggunaan yang sebenarnya. Human-Centered Design adalah prosedur untuk memenuhi persyaratan ini, tetapi dengan penekanan pada dua hal:

  • memecahkan masalah yang benar, dan
  • melakukannya dengan cara yang memenuhi kebutuhan dan kemampuan manusia.

ATRIBUT DESIGN THINKING

Beberapa atribut Design Thinking adalah ambigu, kolaboratif, konstruktif, keingintahuan, empati, holistik, iteratif, tidak menghakimi dan pemikiran terbuka.

AtributDefinisiKeterangan
AmbiguityMerasa nyaman saat ada hal yang tidak jelas atau saat Anda tidak tahu jawabannya.Design Thinking membahas wicked problem = masalah yang tidak jelas dan rumit.
CollaborativeBekerja bersama lintas disiplin ilmu.Mendesain dalam tim interdisipliner.
ConstructiveMenciptakan ide baru berdasarkan ide lama, yang mungkin juga bisa menjadi ide paling sukses.Design Thinking adalah pendekatan berbasis solusi yang mencari hasil masa depan yang lebih baik.
CuriosityTertarik pada hal-hal yang tidak Anda pahami atau menerima sesuatu dengan pandangan yang segar.Banyak waktu dan upaya dihabiskan untuk mengklarifikasi kebutuhan. Sebagian besar aktivitas pemecahan masalah terdiri dari definisi masalah dan pembentukan masalah.
EmpathyMelihat dan .memahami berbagai hal dari sudut pandang pelanggan AndaFokusnya adalah pada kebutuhan pengguna (konteks masalah).
HolisticMelihat konteks yang lebih besar untuk pelanggan.Design Thinking berupaya untuk memenuhi kebutuhan pengguna dan juga mendorong kesuksesan bisnis.
IterativeProses berputar di mana perbaikan dilakukan pada solusi atau ide terlepas dari fase apa pun.Proses Design Thinking biasanya tidak berurutan (non-sequential) dan dapat termasuk putaran dan siklus feedback.
NonjudgementalMenciptakan ide tanpa menilai pencipta ide atau ide tersebut.Khususnya pada fase brainstorming, tidak ada penilaian yang terlalu awal.
Open mindsetMerangkul Design Thinking sebagai pendekatan untuk masalah apa pun terlepas apa industri atau ruang lingkupnya.Metode ini mendorong “out of the box” (“wild idea”); menentang yang sudah jelas dan merangkul pendekatan yang lebih eksperimental.

KARAKTERISTIK SEORANG DESIGN THINKER

Karakteristik dari seorang Design Thinker adalah:

  1. Fokus pada nilai dan kebutuhan manusia. Memiliki empati untuk orang-orang, meminta feedback dari pengguna, dan menggunakannya dalam desain.
  2. Jadikan eksperimen sebagai bagian integral dari proses desain, menjadi “pelaku” aktif, berkomunikasi melalui artefak yang bermakna.
  3. Berkolaborasi dengan orang-orang dari berbagai latar belakang dan menghormati sudut pandang mereka; memungkinkan “wawasan dan solusi terbaik untuk muncul dari keragaman”.
  4. Dapat menangani masalah yang rumit, memiliki rasa penasaran dan optimis, adalah pemikir integratif (holistik) yang melihat konteks yang lebih besar bagi pelanggan.
  5. Memperhatikan keseluruhan proses Design Thinking sehubungan dengan tujuan dan metode yang digunakan.

PROSES DESIGN THINKING

Terdapat beberapa model proses Design Thinking seperti pada gambar perbandingan di bawah ini.

Pada pembahasan-pembahasan berikutnya, kita akan mengacu pada model proses di Stanford Design School.

Model proses Design Thinking ini terdiri dari 5 stage, yaitu:

Empathize: Untuk menciptakan inovasi yang berarti, Anda perlu mengenal pengguna Anda dan peduli dengan kehidupan mereka.
Define: Membingkai masalah yang tepat adalah satu-satunya cara untuk menciptakan solusi yang tepat.
Ideate: Ini bukan tentang menghasilkan ide yang ‘benar’, ini tentang menghasilkan berbagai kemungkinan yang luas.
Prototype: Membangun prototipe untuk berpikir dan menguji prototipe untuk belajar.
Test: Kesempatan untuk mempelajari solusi dan pengguna Anda.

Dalam pelaksanaannya, Design Thinking adalah proses non-linear.

Dengan proses non-liner, ini berarti bahwa tim desain terus menggunakan hasil mereka untuk meninjau, mempertanyakan, dan meningkatkan asumsi, pemahaman, dan hasil awal mereka. Hasil dari tahap akhir proses kerja awal menginformasikan pemahaman tim tentang masalah, membantu menentukan parameter masalah, memungkinkan untuk mendefinisikan kembali masalah, dan, mungkin yang paling penting, memberikan wawasan baru sehingga tim dapat melihat alternatif solusi yang mungkin belum tersedia dengan pemahaman level sebelumnya.


REFERENSI

  • Design Thinking: Understand – Improve – Apply. Hasso Plattner, Christoph Meinel and Larry Leifer.
  • Design of Business: Why Design Thinking is the Next Competitive Advantage. Roger L. Martin.
  • Design Thinking for Strategic Innovation. Idris Mootee.
  • An Introduction to Design Thinking. Mode Guide Bootcamp. Stanford Design School.
  • What is Design Thinking, https://hpi-academy.de/en/design-thinking/what-is-design-thinking.html
  • https://hpi.de/en/school-of-design-thinking/design-thinking/mindset.html
  • https://experience.sap.com/skillup/introduction-to-design-thinking/
  • https://www.interaction-design.org/literature/article/what-is-design-thinking-and-why-is-it-so-popular
  • https://medium.com/good-design/visualizing-the-4-essentials-of-design-thinking-17fe5c191c22
  • Feature Image: https://www.invisionapp.com/design-defined/design-thinking/