THE SCOPE PLANE

Jesse James Garrett: The Element of UX

Bagian Scope secara fundamental ditentukan oleh bagian Strategy. Strategy menjadi Scope ketika Anda menerjemahkan Product Objectives dan User Needs ke dalam kebutuhan spesifik untuk konten dan fungsional yang ditawarkan produk kepada user.

Structure akan mendefinisikan cara berbagai fitur dan fungsi website dapat sejalan bersama. Apa saja fitur dan fungsi tersebut merupakan Scope dari website. Misalnya, beberapa situs jual beli menawarkan fitur yang memungkinkan user untuk menyimpan alat pengiriman sebelumnya, sehingg dapat digunakan kembali. Apakah fitur tersebut atau fitur lainnya, tercapkup dalam website adalah bagian dari Scope.

Menentukan Scope pada proyek adalah proses penting yang menghasilkan produk yang bernilai. Anda dapat mengidentifikasi apa yang dapat ditangani sekarang dan apa yang harus menunggu dikerjakan nanti. Menentukan kebutuhan mendorong ambiguitas keluar dari proses desain. Menentukan kebutuhan fungsional dan konten mencakup apa saja fitur dan konten yang ada dalam aplikasi atau produk; kebutuhan harus terpenuhi dan diselaraskan dengan tujuan strategis. Mulailah penentuan Scope secara luas, lalu dipersempit, kemudian disempurnakan.

Scope dibagi menjadi:

  1. Kebutuhan Fungsional (Functional Requirements): Kebutuhan ini berkaitan dengan fungsi atau fitur dalam produk, bagaimana fitur bekerja satu sama lain dan bagaimana mereka saling terkait. Fitur-fitur ini adalah apa yang dibutuhkan user untuk mencapai tujuan.
  2. Kebutuhan Konten (Content Requirements): Kebutuhan ini berkaitan dengan informasi yang dibutuhkan untuk memberikan nilai. Informasi dapat berupa teks, gambar, audio, video, dan lain-lain. Tanpa mendefinisikan konten, Anda tidak tahu tentang ukuran atau waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan proyek.

Beberapa pertanyaan yang perlu ditanyakan terkait konten:

  • Apakah konten sesuai dengan tujuan atau sasaran website?
  • Apakah konten sesuai dengan audiens?
  • Apakah user Anda menemukan konten ini berguna?

Pada pendekatan sebuah proyek, ketahui konten-konten yang sudah ada di website dan jenis media lainnya (brosur, pamflet, dll). Adaptasi untuk website yang Anda bangun. Tentukan konten apa yang baik untuk dikembangkan dalam website, lalu buatkan konten untuk website tersebut. Tetapkan tujuan secara incremental (meningkat secara bertahap, secara teratur/ berkala) untuk menghindari Scope yang merembet tidak tentu arah: ada tahap awal, ada tahap tambahan berikutnya.

Dua alasan utama untuk serius dalam mendefinisikan kebutuhan adalah:

  1. Anda tahu apa yang sedang Anda bangun: Dengan Anda menentukan seperangkat kebutuhan, memungkinkan Anda untuk membagi pekerjaan lebih efisien. Lalu dengan melihat seluruh Scope yang dipetakan, memungkinkan Anda untuk melihat hubungan antara kebutuhan individual yang mungkin tidak terlihat.
  2. Anda tahu apa yang tidak Anda bangun: Banyak fitur yang terdengar sebagai ide yang baik, tetapi tidak selalu sejalan dengan tujuan strategis proyek Anda. Tersedianya kebutuhan yang diidentifikasi dengan jelas, dapat memberi kerangka kerja untuk mengevaluasi ide-ide yang berdatangan, membantu Anda memahami mana yang cocok dengan apa yang sudah Anda tentukan untuk dibangun. Dengan mengetahui apa yang tidak Anda bangun, juga berarti Anda tahun bahwa fitur itu tidak Anda bangun sekarang.
Jesse James Garrett: The Element of UX

Sesuai dengan gambar di atas, kebutuhan yang tidak dapat dipenuhi pada jadwal proyek saat ini, dapat menjadi dasar untuk timeline pada siklus pengembangan berikutnya.

Kebutuhan ada dua jenis, yaitu Kebutuhan Fungsional (Functional Requirements) dan Kebutuhan Konten (Content Requirements). Pada bagian Fungsional, Anda memperhatikan apa yang dianggap sebagai satu kumpulan fitur dari produk software. Pada bagian Konten, Anda berurusan konten, domain tradisional dari kelompok editorial dan komunikasi pemasaran. Analoginya, fitur sebagai pemutar media untuk lagu, sedangkan konten adalah file audio lagu-lagunya.



THE STRUCTURE PLANE

Jesse James Garrett: The Element of UX

Structure adalah bagian setelah Scope dan sebelum Skeleton. Pada bagian Scope, Anda telah menentukan Functional Requirements dan Content Requirements. Pada bagian Skeleton, Anda bisa menentukan penempatan elemen-elemen interface pada halaman check out sebuah website; tetapi sebelumnya Structure akan menentukan bagaimana user sampai ke halaman itu dan ke mana mereka bisa pergi setelah selesai di halaman tersebut. Skeleton dapat menentukan pengaturan elemen-elemen navigasi yang memungkinkan user untuk menelusuri kategori produk; tetapi sebelumnya Structure akan menentukan apa saja kategori produknya.

Bagian Structure mendefinisikan/ menentukan:

  • Bagaimana user berinteraksi dengan produk
  • Bagaimana sistem berperilaku ketika user berinteraksi
  • Bagaimana hal tersebut diatur, diprioritaskan dan berapa banyaknya.

Structure dibagi menjadi dua komponen:

  1. Interaction Design
  2. Information Architecture

Interaction Design mengacu dari Functional Requirements, yang mendefinisikan bagaimana user dapat berinteraksi dengan produk, dan bagaimana sistem berperilaku dalam merespon interaksi user. Dengan adanya Interaction Design yang baik, maka dapat:

  • Membantu user untuk mencapai tujuannya.
  • Dapat secara efektif mengkomunikasikan interaktivitas dan fungsionalitas (apa yang dapat dilakukan user).
  • Memberitahu user tentang perubahan status (file telah disimpan, ada feedback kepada user) saat user berinteraksi dengan produk.
  • Mencegah kesalahan user, seperti sistem meminta user mengkonfirmasi tindakan yang berpotensi berbahaya (misalnya menghapus sesuatu).

Information Architecture mengacu dari Content Requirements, yang mendefinisikan elemen-elemen konten, bagaimana mereka diatur untuk memfasilitasi pemahaman manusia terhadap informasi yang disajikan. Information Architecture yang baik dapat:

  • Mengatur, mengelompokkan dan membuat prioritas informasi berdasarkan User Needs dan Business Objectives.
  • Membuat produk mudah dipahami dan bergerak melalui informasi yang disajikan.
  • Fleksibel untuk mengakomodasi pertumbuhan informasi dan beradaptasi dengan perubahan; sesuai dengan audiens.

Untuk merancang Information Architecture, Anda perlu melakukan pengaturan dan pengkategorian informasi, lalu diberi label dan mengatur navigasinya. Cara untuk melakukannya adalah dengan menggunakan sticky noted atau index card, dengan tambahan whiteboard atau tembok untuk tempat menempelkannya.

MODEL STRUKTURAL

Informasi dapat disusun dengan beberapa model.

1.. Hirarki

Hirarki
Contoh: Library of Congress Classification. “Q” – Science, “QC” – Physics
Contoh: Open Directory, Yahoo! Categories

2. Sekuensial

Sekuensial
Contoh: Amazon (berguna ketika “workflow” adalah bagian penting dari sebuah aplikasi web)
Ketika urutan adalah penting atau bagian dari presentasi

3. Organik

Organik
Contoh: Wikipedia.com

LABEL

Dalam pemberian label, ketahui siapa yang menjadi audiens Anda. Ujilah label tersebut dengan bertanya kepada audiens. Contoh melakukan pengujiannya adalah dengan card sorting, baik secara online ataupun offline dengan bertemu langsung. Anda dapat menanyakan pertanyaan-pertanyaan rinci untuk mengetahui bagaimana user menemukan informasi dalam website melalui label yang Anda berikan. Misalnya untuk website institusi pendidikn: “Apa sajakah jenjang pendidikan yang tersedia?”, “Apakah syarat untuk melamar menjadi mahasiswa?”.

Beberapa contoh kategori dan label dari website berita.

CNN
Fox News
ABC News
CBS
New York Times
NPR
BBC
NBC


REFERENSI

Garret, J. J., 2011. The Elements of User Experience: User-Centered Design for the Web and Beyond, Second Edition. Berkeley: New Riders.
User Experience, Harvard University, CSCI E-12 Fundamentals of Web Site Development, https://cscie12.dce.harvard.edu/lecture_notes/2018-spring/20180306/slide2.html

Feature image: Photo by You X Ventures on Unsplash